hi,


SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI MAHASISWA HUBUNGAN INTERNASIONAL Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang

Sabtu, 04 Januari 2014



Citra Perempuan Buruk dalam Pusaran Politik 


Kiprah kaum perempuan dalam pembangunan bangsa dan negara sangatlah diperlukan. Sumbangan perempuan dari berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial dan politik di kebanyakan negara-negara di dunia begitu dominan sekali. Ada beberapa peran strategis yang dapat dijalankan kaum perempuan diantaranya. Pertama, peran untuk ambil bagian dalam proses politik, khususnya proses pengambilan keputusan politik yang dapat berimplikasi pada kehidupan publik. Kedua, peran untuk ambil bagian dalam merancang suatu model baru pembangunan, yang digerakkan oleh suatu tata kelola pemerintahan yang baik dan adil gender. Ketiga, peran untuk ambil bagian dalam proses sosial-ekonomi dan produksi, serta proses kemasyarakatan yang luas. Kaum perempuan dapat menjadi penggerak kebangkitan perekonomian nasional yang lebih berkarakter, yakni perekonomian yang berbasis produksi, bukan konsumsi.

Tak berlebihan, jika peran ganda itu membuat perempuan dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Ia tidak saja harus bisa membagi waktu, tetapi juga dapat menyelaraskan dua ranah itu pada porsi yang seimbang. Tetapi untuk bisa menjaga keselarasan itu bukanlah sesuatu yang gampang, tak sedikit kaum hawa yang bisa melejit dan meraih kesuksesan di dunia politik dan bisa tenar dari kiprah yang dia pejuangkan.

Namun, di tengah masalah bangsa yang begitu komplek di akhir tahun 2013 menjadi tahun yang penuh dengan sosok perempuan di balik jeruji. Beberapa nama terkenal dari kalangan politisi, pengusaha, mantan pejabat silih berganti masuk ke balik jeruji. Perempuan dari dunia politik yang tersangkut kasus korupsi seperti Nunun Nurbaeti, Angelina Sondak dan yang terakhir ialah Ratu Atut. Keterlibatan perempuan dalam berbagai kasus korupsi menyita perhatian publik di tahun 2012 dan 2013. Bukan semata karena magnitude korupsi yang besar tetapi juga peran sentral perempuan dalam kasus tersebut. Sosok mereka sebagai panutan di masyarakat dikhawatirkan memberikan contoh buruk bagi perempuan lainnya. Melihat fakta-fakta yang ada mengenai permasalahan perempuan saat ini, dapat dikatakan belum mampu menjawab berbagai penyelesaian permasalahan yang ada.

Sebuah kekhawatiran besar kemudian muncul mengingat mereka adalah elemen penting dari pendidikan anak dalam keluarga. Kekhawatiran dilandasi pada proses internalisasi budaya korupsi yang mungkin sudah diawali dari lingkungan keluarga. Bahkan dari pantauan terhadap perbincangan tentang Megawati, yang paling dominan tak pernah mengulas kebaikan kepemimpinan ataupun karakternya. Yang bermunculan di akun nonmedia justru berbagai guyonan yang mencatut nama mantan presiden kelima RI itu. Satu dari sedikit tokoh perempuan dalam politik yang menancap di memori publik adalah Sri Mulyani Indrawati, yang saat ini menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia. Walaupun tidak aktif di ranah politik nasional saat ini dan sempat diperiksa KPK, Sri Mulyani masih diingat publik sebagai sosok perempuan yang cerdas luar biasa.

Berbeda halnya dengan politisi pria. Sebagai contoh, Jokowi, Jusuf Kalla, atau Mahfud M. D., memiliki citra kuat yang sangat mudah terpantau dalam perbincangan-perbincangan di Twitter. Tokoh-tokoh ini cenderung diingat publik sebagai sosok yang mempunyai karakter, berpeluang membawa perubahan, dan tak jarang terpantau diidam-idamkan menjadi pemimpin Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar