Menjelang Pemilihan Umum “Dukun Politik” Laris
Mereka
yang datang ke paranormal bukan orang-orang yang tidak mempunyai agama, mereka
semuanya beragama jika dilihat dari KTPnya. Apakah mereka tahu perbuatan
mendatangi dukun dan paranormal itu melanggar agama? Kemungkinan besar mereka
tahu. Namun jika hati sudah diselimuti nafsu untuk berkuasa maka akal sehat
sudah tak bekerja, maka segala perbuatan dan menghalalkan segala cara pun
dilakukan. Yang penting tujuan menjadi anggota dewan akan tercapai. Segala
perbuatan yang diawali dengan ketidak benaran, maka bisa dipastikan hasilnya
juga akan tidak benar.
Tidak dipungkiri banyak sekali profesi dukun atau
paranormal di negeri ini, hampir di setiap kampung dan penjuru desa ada dukun
yang semuanya mengaku sakti. Perdukunan, ilmu gaib, santet dan sejenisnya
merupakan budaya yang mengakar di negeri ini. Kepercayaan animisme dan
dinamisme adalah kepercayaan yang pertama kali dianut oleh penduduk asli
wilayah nusantara. Malahan menjelang Pemilu 2014 sudah banyak dukun
politik memasang iklan politik melalui panflet dan media online /internet.
Tampaknya dukun politik yang non ilmiah tidak mau kalah dengan lembaga survei
ilmiah dalam bersaing untuk menggaet pelanggan. Semua bertujuan sama untuk membantu
peminta jasa agar tercapai yang dicita-citakan dengan cara yang berbeda.
Mengapa para kandidat legislator, kandidat kepala
daerah, kandidat kades, mungkin juga kandidat presiden yang umumnya sudah
berpendidikan tinggi dan menganut agama masih juga lari minta bantu kepada
dukun politik? Sejumlah alasan dapat dikemukakan sebagai berikut:
Pertama, dapat diduga kemungkinan besar yang bersangkutan tidak percaya diri akan kapasitasnya baik dari segi intelektualitas, wawasan, kepopuleran atau ketenaran, pendanaan dan modal-modal sosial lainnya seperti kedekatan dengan masyarakat, jaringan sosial dan sebagainya. Untuk membayar kekurangan-kekurangan tersebut, maka yang dianggap praktis dan mungkin juga lebih murah dan diyakini akan sukses adalah dengan melalui operasi senyap minta jasa dukun politik. Kedua, dari segi kualitas keimanan dalam beragama, yang bersangkutan mungkin masih rendah keimanannya sehingga masih dapat terkontaminasi oleh perbuatan syirik. Ketiga, mereka yang lari ke dukun politik berdalih untuk mencari keseimbangan usaha antara usaha lahiriah (ilmiah) dan usaha batiniah dengan melalui dukun politik.
Pertama, dapat diduga kemungkinan besar yang bersangkutan tidak percaya diri akan kapasitasnya baik dari segi intelektualitas, wawasan, kepopuleran atau ketenaran, pendanaan dan modal-modal sosial lainnya seperti kedekatan dengan masyarakat, jaringan sosial dan sebagainya. Untuk membayar kekurangan-kekurangan tersebut, maka yang dianggap praktis dan mungkin juga lebih murah dan diyakini akan sukses adalah dengan melalui operasi senyap minta jasa dukun politik. Kedua, dari segi kualitas keimanan dalam beragama, yang bersangkutan mungkin masih rendah keimanannya sehingga masih dapat terkontaminasi oleh perbuatan syirik. Ketiga, mereka yang lari ke dukun politik berdalih untuk mencari keseimbangan usaha antara usaha lahiriah (ilmiah) dan usaha batiniah dengan melalui dukun politik.
Dukun politik sudah
menjadi fenomena baru dalam meraih kekuasan politik dan ternyata praktek
perdukunan politik semakin marak dalam masyarakat. Karena permintaan masyarakat
akan jasa dukun politik semakin banyak, maka wajar jika dukun-dukun politik
baru pun bermunculan. Oleh karena itu, patut ada kajian lebih mendalam
baik secara sosial budaya dan agama/keyakinan bagaimana seluk beluk para dukun
politik menjalani ritual dengan pelanggannya dan sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar